Ibcqq

Meski anaknya mapan, Ilyaskarim pilih hidup sederhana di Rawajati

Meski anaknya mapan, Ilyaskarim pilih hidup sederhana di Rawajati





Banyak orang merasa iba ketika mengetahui bahwa rumah tinggal veteran pejuang kemerdekaan H Ilyaskarim berada di pinggir rel kereta api. Karenanya, pengelola Kalibata City dikabarkan menghadiahkannya satu unit apartemen pada tahun 2011, walaupun hal tersebut dibantah oleh Ilyas.

Apalagi setelah rumah yang dihuninya bersama sang istri sejak 35 tahun lalu di Jalan Rawajati Barat digusur pada Kamis (1/9) lalu. Banyak orang murka terhadap pemerintah yang seolah-olah tidak menghargai jasa seorang pahlawan. Ilyas sendiri mengaku enggan pindah ke Rumah Susun (rusun) Marunda, salah satunya karena masalah biaya.

"Bayar dengan apa? Rumah susun itu kan bayar juga. Enak saja disuruh ambil rumah susun. Kalau ini dibayar, baru bisa bayar rumah susun," ujarnya ketika ditemui di Musala Al Yaqin seusai penggusuran.

Namun ternyata berdasarkan keterangan beberapa warga sekitar, Ilyas bukanlah orang dengan kondisi ekonomi sulit. Walaupun dia hanya tinggal berdua dengan sang istri di Rawajati, 14 anaknya yang menetap di berbagai daerah sudah mapan.

"Anaknya sudah pada mapan semua. Punya rumah dan mobil," ujar Kasum (49), seorang tetangga yang mengaku dekat dengan Ilyas kepada merdeka.com, Selasa (6/9).

Pada wawancara sebelumnya dengan merdeka.com, Ilyas bercerita bahwa anak-anaknya tinggal terpencar di banyak tempat. Ada yang di Jakarta, Medan, Bali, bahkan Jerman, dan sebagainya. Walaupun begitu, dia tetap memilih hidup sederhana berdua dengan sang istri. Mantan tentara Siliwangi ini mengaku bahwa sejak tidak bekerja lagi, dia mendapatkan uang dari pensiunannya senilai 4 juta perbulan.

Menurut Kasum juga, rumah kakek 30 cucu ini memang nampak lebih luas daripada kebanyakan rumah warga lain. Sebelum kena gusur, Ilyas tinggal di Jalan Rawajati Barat No7 RT 9 RW 4.

"Rumah pak haji sederhana. Cuma bedanya tempatnya lebih gede, lebar," ujarnya.

Kasum melanjutkan, pejuang yang mengaku sebagai pengibar bendera pusaka pada tahun 1945 itu sebenarnya bisa saja pergi sejak lama dan ikut hidup bersama anak-anaknya yang sudah mapan. Namun dia tidak melakukannya karena keterikatan batin dengan warga Rawajati dan sekitar. Hal serupa juga dinyatakan oleh Asan, tetangganya yang lain.

"Dia seneng di sini. Namanya orang sudah tua mungkin pengen bebas, nggak mau ngebebanin anak-anaknya. Kalau sehari-hari memang nggak pernah kekurangan hidupnya," katanya.

Disaksikan oleh banyak orang, mantan tentara kelahiran Padang ini menerima bantuan dari Urang Awak (perantau Minang) pada Sabtu (3/9) lalu. Dari uang senilai Rp 80 juta, Ilyas memberikan Rp 30 juta kepada masyarakat.

"Kalau dia bukan orang baik dari dulu bisa aja ikut anaknya. Sangking baiknya sama warga sini, bahkan kemarin ada bantuan dari grup Minang sebesar Rp 80 juta, karena kebaikan pak haji disumbangkan ke warga Rp 30 juta," tandas Mismanto (50), warga Jalan Rawajati Barat yang sudah menetap di sana selama 40 tahun.


WEBSITE POKER ONLINE

Share on Google Plus

About transmedia

    Blogger Comment
    Facebook Comment