
Sangat miris melihat tingkah polah sebagian umat Islam di Indonesia akhir-akhir ini. Umat Islam Indonesia yang katanya toleran, ramah, santun, menghargai budaya lokal, cerdas, mulai terkikis. Setelah kasus Ahok mencuat entah mengapa banyak umat Islam yang kekanak-kanakan dan tidak bisa berpikir jernih. Mereka nampak sangat mudah digiring dan digoreng oleh isu murahan dengan dalil agama.
Betapa mudahnya umat Islam diprovokasi oleh segelintir oknum politikus. Mereka bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, sangat mudah untuk diajak dan diprovokasi. Kita sudah bosan dengan aksi-aksi yang berjilid-jilid yang hanya membuang-buang energi. Saya pikir, aksi-aksi tersebut menjadi akhir dari ketidak dewasaan sebagian umat Islam dalam berpikir. Namun ternyata saya salah besar.
Fakta bahwa Ahok memenangkan Pilkada putaran pertama serta persidangan yang belum juga menjebloskan Ahok ke penjara ternyata belum membuat mereka puas. Mereka terus-terusan bertingkah layaknya anak kecil yang suka memaksakan kehendak. Pada intinya, Ahok harus dipenjara atau kalah di Pilkada bagaimanapun caranya. Itu yang menjadi tujuan mereka.
Sebagai orang Islam, saya malu melihat kelakuan mereka. Saya malu mengapa mereka tidak bisa menunjukkan sosok pribadi muslim yang elegan, berkompetisi secara sportif. Hanya karena tidak mau Ahok menjadi gubernur, mereka harus membawa-bawa agama agar orang tidak memilih Ahok.
Kita tentu masih ingat belum lama ini bermunculan spanduk yang dipasang di masjid yang bertuliskan masjid ini tidak menshalati jenazah pendukung penista agama. Baner ini menjadi viral dan sangat disayangkan oleh beberapa ulama.
MUI sendiri dalam menanggapi selebaran dan spanduk berisi penolakan masjid mengurus jenazah Muslim yang mendukung penista agama, meminta umat Islam tetap jaga ukhuwah. MUI mengimbau kepada semua umat Islam agar bersikap proporsional, tidak melampau batas.
MUI bahkan mengingatkan kepada umat Islam bahwa kewajiban mengurus jenazah seorang Muslim yang meliputi memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka semua orang mukim atau bertempat tinggal di daerah tersebut berdosa. Artinya MUI tidak sepakat dengan adanya spanduk tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ, sikap kekanak-kanakan mereka kambuh lagi. Setelah masjdi dijadikan alat politik, kali ini mereka menjadikan tempat pemakaman sebagai alat politik. Saya menemukan foto-foto di grup facebook dari akun-akun yang selama ini memprovokatori masyarakat agar membenci Ahok.
Kali ini muncul spanduk di tempat pemakaman yang bertuliskan, “PEMAKAMAN INI GA NERIMA BANGKE ORANG MUNAFIK / PEMDUKUNG PENISTA AGAMA”
Saya belum mengetahui apakah benar ada tempat pemakaman umum yang memasang spanduk seperti itu meskipun di foto tersebut ada keterangan di tempat pemakaman umum kampung Pulo Kalibata Jaksel. Namun fotonya sudah menyebar di medsos dan berpotensi akan menebar kebencian dan membuat masyarakat resah kalau dibiarkan.
Melihat pemilihan kata dari tulisan tersebut sudah sangat menunjukkan bahwa yang membuat adalah bukan orang berpendidikan, bukan orang yang memiliki sopan santu, apalagi ulama.
Membuat spanduk seperti itu saja sudah menunjukkan orang tersebut seperti iblis karena hobinya menghasut seperti iblis. Ini belum sampai ke pembahasan isi tulisan dan pemilihan kata. Kemudian ditambah dengan fakta bahwa isi tulisan tersebut sangat tidak sopan, pemilihan kata yang kasar dan sangat provokatif, jelas ini dibuat oleh Iblis berwujud manusia.
Mereka sesungguhnya Iblis yang berlindung di balik jubah agama. Ibadah mereka hanya menjadi kedok untuk menutupi kebusukan hati mereka. Yang ada di dalam hatinya hanyalah kedengkian. Kebehagiaan mereka adalah melihat orang yang dia dengki sengsara. Karena kalau orang yang dia dengki bahagia, dia lah yang menjadi sengsara. Itulah karakter orang dengki. Dan seperti kita tahu bahwa dengki itu akhlak tercela dan merupakan sifat Iblis.
Siapapa pun yang membuat atau menginisiasi spanduk provokatif tersebut, saya katakan itu Iblis berwujud manusia. Saya tidak peduli dia siapa, ilmunya seberapa, jabatannya apa. Ketika dia membuat atau menginisiasi spanduk yang provokatif tersebut maka dia adalah Iblis.
Saya mempersilahkan orang-orang yang memang suka menjadi provokator untuk membuat propaganda, asalkan jangan bawa-bawa simbol agama. Agama adalah sesuatu yang sakral dan suci. Agama jangan dijadikan alat hanya untuk mewujudkan kepentingan politik. Sebagai orang Islam saya sangat miris melihat fenomena ini.
Mereka menuduh Ahok menista agama, namun mereka sendiri melakukan penistaan kepada agama yang lebih keji. Apa salah agama sehingga harus dibawa-bawa hanya untuk kepentingan politik?
Mungkin seperti itu….

Blogger Comment
Facebook Comment